Alif (Sebuah Cerpen)
***
Demi Tuhan! Demi Tuhanku, ya Allah!
Kota yang merupakan pemberian dari-Mu, dan juga dikenal sebagai kota kedamaian,
lalu seribu satu kisah ajaib berakar darinya,
Engkau selama ini juga telah memberkatinya dengan lentera emas, yang sinarnya memancar ke berbagai belahan dunia,
dengan teramat mahsyurnya kunci-kunci pengetahuan dunia dan akhirat dari para cendekiawan!
Mengalahkan penjuru Bumi bagian barat yang saat itu masih berkutat pada kekolotan dan kebobrokan (berkedok nama-Mu). Masih diselimuti kegelapan pekat era pertengahan...
Lalu, yang teramat penting, kunci pengetahuan itu juga dipakai bagi insan untuk lebih mengenal-Mu, ya Tuhanku!
Untuk membuka gerbang tabir alam-alam ciptaan-Mu.
Karena,
Mereka haus akan cinta dan rasa penasaran terhadap-Mu....
Tapi mengapa....
Mengapa kau kini padamkan lentera emas agung itu?
Mengapa kau tak biarkan mereka terus membuka pintu, untuk mengenal-Mu dengan ilmu yang Engkau karuniai terhadap mereka?
Telah kusaksikan dengan mataku,
Lukisan neraka dunia yang nyata dan seolah mencambuk badanku. Nyala api yang melahap tanpa pandang bulu. Bangunan-bangunan indah kini hancur luluh, lengkap dengan semua di dalamnya.
Rumah pusat pengetahuan tidak luput dari kekacauan dahsyat itu. Ribuan kunci pengetahuan rahasia, ikut hancur terbakar dan sisanya harus terbuang hingga luntur menghitamkan Sungai Tigris.
Yang tadinya, sungai itu juga memerah darah dari mayat-mayat warga tak berdosa!!!
Ya, mayat!
Oh Tuhan, lihatlah!!!...
Mereka semua meregang nyawa dengan cara yang mengerikan. Banyak dari jasad itu yang kutemukan sudah tiada lagi utuh, sebagian besar sudah tanpa kepala...
Bau anyir yang menusuk hidung disertai lalat-lalat yang menggerubungi onggokan jenazah,
Sungguh tak kuasa air mataku tumpah, namun aku tiada sanggup untuk menjerit pilu.
Terlebih,
Terlebih lagi!!!!....
OH YA ALLAH!!!...
BETAPA PERIH HATIKU, YA TUHAN!!!...
KENAPA KAU TAKDIRKAN DIRIKU UNTUK MENCABUT RUH SAHABAT MANUSIAKU SENDIRI???...
***
Setahun yang lalu
Di salah satu kelas dalam sebuah gedung sekolah menengah,
Seorang syekh sedang menjelaskan materi pelajaran keagamaan kepada para siswanya.
Mereka menyimak seksama bab pembahasan dasar mengenai mengimani malaikat:
"Malaikat.
Mereka adalah makhluk suci ciptaan Allah yang terbuat dari cahaya, dan mereka termasuk makhluk gaib.
Mereka juga punya ciri-ciri yang berbeda dari makhluk ciptaan Allah lainnya.
Seperti, mereka tidak mempunyai nafsu
----sehingga tidak makan-minum-tidur--- dan bahkan jenis kelamin pun tidak punya.
Jadi jangan bayangkan mereka itu wanita cantik aduhai layaknya dongeng masa Jahiliyah, ya!...."
Celetuk sang syekh mencoba mencairkan suasana, yang diikuti oleh cekikikan geli para siswa. Bisa-bisanya kepikiran candaan begitu.
"Baiklah, lanjut ke pelajaran! Meskipun tidak punya nafsu dan jenis kelamin, namun Allah tetap mengaruniakan mereka akal pikiran. Dan yang terpenting, juga kekuatan yang teramat dahsyat dari makhluk lainnya!
Ya! Malaikat boleh dibilang adalah makhluk ciptaan Allah terkuat, karena memikul misi-Nya demi keberlangsungan hidup makhluk lainnya di alam semesta. Mengarungi pintu alam langit dan Bumi dengan kecepatan tak terbayangkan!
Lalu dalam surah Al-Fathir ayat 1 dijelaskan kalau mereka memiliki 2,3, atau 4 pasang sayap yang membuat mereka bisa terbang gesit.
Satulagi, sepertinya ini ada kemungkinan, walau 1:1000, kalian akan menemui sesosok 'jelmaan malaikat' dalam hidup kalian.
Sebab, malaikat adalah makhluk yang bisa berubah wujud. Dan seringkali mereka berubah menjadi lelaki tampan yang nyaris sempurna."
Semuanya nampak antusias sembari terus mencatat di lembaran-lembaran, meski pelajaran tentang rukun iman begitu sudah berulang kali dijelaskan sejak jenjang dasar.
Kecuali seorang lelaki muda yang duduk di pojok kiri depan menghadap jendela sekolah,
Alif ibn Hussein "Al-Beshara", nama anak itu. Lelaki berdarah campuran Arab-Persia, namun ia tetaplah Muslim Sunni.
Berambut lurus kecoklatan dan mata hijau cerah, dengan wajah yang tergolong tampan.
Berasal dari keluarga pedagang yang berkecukupan, namun memilih hidup sederhana dan ogah pamer.
Anak itu, sedari tadi meski telah selesai mencatat materi, namun pikirannya sama sekali tidak dalam pelajaran.
Ia kini bertopang dagu melamun.
Bagaimana tidak? Sahabat baiknya di sekolah yang dulu tinggal berterangga dengannya, Hisham,
harus pindah menyeberang kapal, memulai kehidupan baru di negeri lain.
Beberapa hari lalu, sekolah mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan dengan pemberian barang kenang-kenangan padanya. Termasuk Alif sendiri, memberinya sepatu bekas coklat yang masih nampak bagus.
Kenapa gerangan Hisham harus pindah, ya?
Batin Alif bertanya-tanya.
Dan hal yang lebih ganjil lagi, saat ia menemui Hisham sehari sebelum hari kepindahannya tiga hari yang lalu, telinganya tanpa sengaja menangkap pembicaraan dari orang tua Hisham yang nampak gelisah.
"Hulagu-Khan, oh ya Tuhan!... INI BURUK, bagaimana dengan sanak saudara kita yang lain, wahai Suamiku?!!!.." begitu tanya ibu Hisham kepada suaminya dengan nada menahan isakan.
Eh.... Hulagu-Khan? Siapa itu pula?
Makin membingungkan saja.
"Ehm... Hey Ibnu Hussein, apa kau tadi menyimak pelajarannya, Nak?"
Tiba-tiba Syekh menegur dirinya dari lamunan rindu dan bingung itu.
Alif dengan canggung mengangguk dan menjelaskan sedikit materi tersebut.
Syekh pun bernapas lega dan pelajaran pun beralih ke sesi penugasan.
***
Malam harinya di rumah Alif,
Hanya ditemani lentera-lentera kecil di sudut dinding rumah,
Alif terus berkutat dalam kegiatan menoreh kuas tinta pada beberapa lembaran kertas,
untuk menyalin materi dari buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah.
Sejak belia, Tuhan telah mengaruniakannya ketajaman akal yang membuatnya sering tenggelam dalam bacaan teks-teks klasik. Bukan hanya itu, ia juga menguasai matematika dan sains, serta dapat menulis karya ilmiah, ataupun puisi indah dengan bahasa Persia.
Tak heran, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ayahnya Hussein pula bekerja sebagai penerjemah bermacam karya sastra yang dikumpul menjadi satu dalam Bayt Al-Hikmah, perpustakan pusat nan masyhur di negeri ini.
Dan sejak kecil pula, ia dan adik perempuannya, Meera sering diajak ayahnya mengunjungi surga wawasan itu.
Di tengah khusyuknya belajar, tiba-tiba tenggorokannya terasa sangat gatal dan ia langsung terbatuk-batuk.
"UHUK!! UHUK!! UHUK!!" Alif pun buru-buru berdiri mengambil gelas minum di dekatnya dan langsung menenggaknya sampai habis.
Namun sayangnya batuknya tak kunjung hilang.
Wah, sepertinya ini batuk berdahak nih!
Alif pun berlari ke pekarangan belakang rumah, langkahya melewati Meera yang baru mau masuk ke kamarnya. Menatap abangnya dengan kantuk sekaligus bingung, tapi akhirnya tidak mengikuti langkah Alif.
Sesampainya di pekarangan belakang, Alif pun kembali membatukkan diri hingga dahak di tenggorokannya keluar.
Ugh, sepertinya aku harus lebih sering istirahat dan kurangin begadang belajar! Duh malah jadi gini, deh...
Gumamnya sembari terus membatuk.
"KHAK!!"
Akhirnya cairan menjengkelkan itu pun keluar dari mulutnya.
Namun itu bukan dahak.
Alangkah terperanjatnya kedua mata Alif yang membelalak, disertai badannya yang mendadak keringat dingin. Memandangi salah satu telapak tangannya sendiri.
OH, TIDAAAK.... APA MAKSUDNYA INI?..... YA TUHANKU, YA ALLAH.....
JANGAN BILANG INI HAL BURUK....
Darah. Alif telah terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah, bukan dahak.
Langkah Alif mundur hingga menyandar ke tembok rumah. Terduduk. Dilaplah dengan sapu tangan bercak darah di tangannya. Wajahnya seketika pucat pasi. Napasnya terengah tegang.
Setahu dirinya, batuk darah memiliki risiko kematian yang cukup tinggi dan merupakan awal gejala pengakit paru-paru.
Alif mencoba untuk tetap tenang di gengah gempuran berkecamuk benaknya, memikirkan kemungkinan terburuk yakni meninggal di usia belasan.
Mau jadi apa keluarganya kalau tanpa dirinya yang notabene putra sulung kebanggaan dan calon cendikiawan??
"Tidak, tidak boleh... Aku tidak boleh mati di usia begini!!!" gumamnya frustasi setengah berteriak. Kembali berlonjak berdiri,
Sebelum matanya menyaksikan hal yang lebih mengejutkan dari batuk darahnhya...
Sosok bercahaya misterius yang tiba-tiba menampakkan diri di hadapannya,
dengan duduk manis di bangku pekarangan!
"ASTAGFIR-" Alif tidak bisa melanjutkan kalimat itu saking napasnya tertahan. Jantungnya bagai mau copot terkaget-kaget.
Dan horornya, mulutnya rasanya ingin menjerit membangunkan keluarganya yang terlelap duluan di dalam rumah, TAPI TIDAK BISA!!!
Rasanya ia bagai dikunci dengan kekuatan gaib oleh sosok misterius tersebut.
Namun bila dilihat-lihat, sosok itu sama sekali jauh dari kata seram.
Justru, sosok itu perlahan membuat Alif begitu takjub, hingga mata zamrudnya ikut berbinar indah.
Rasanya ia sedang bermimpi memandanginya, namun ini nyata. Dan bukan hausinasi
Sungguh terjadi di hadapannya.
Lihatlah, sosok itu berwajah teramat rupawan.
Matanya yang biru cerah terkena berkas sinar rembulan.
Kemudian bibir meronanya, lalu rambut panjang keemasannya melambai ditiup sepoi angin.
Ditambah mengenakan jubah putih panjang yang nampak sehalus sutra.
Siapapun, tak memandang ia lelaki ataupun wanita, akan terhipnotis menyaksikannya.
Apalagi suasananya sedang berada di pekarangan rumah pada larut malam, menambah kesan magis dirinya.
Namun, sosok makhluk apakah itu?
Semacam hantu wanita jahat pemakan manusia yang sengaja tampil cantik demi mencari mangsa?
Alif kembali bergidik, namun lisannya seolah melepas rantai gaib bungkaman sosok itu dan langsung merapalkan ayat kursi keras-keras!
"TERKUTUK KAU IBLIS WANITA!!!! AKU TAKKAN TERGODA DENGAN RAYUANMU!!!!..." Pekik Alif yang tanpa pikir panjang menerjang sosok itu.
Namun sosok itu dengan secepat kilat menghindar, sekonyong-konyong membuat Alif menghantam bangku taman meski tidak terlalu sakit.
Sosok itu mendesah dan menggeleng melihat kelakuannya.
"Ya ampun, Nak! Aku bahkan bukan iblis, lho..."
Akhirnya sosok itu membuka mulut.
Sial, ternyata suaranya seperti lelaki sekolah menengah yang belum puber.
Ambigu. Macam tidak punya jenis kelamin saja.
Eh, tunggu dulu. APA JANGAN-JANGAN...
"Apa kau malaikat?" pertanyaan itu meluncur deras dari bibir Alif, dengan badan gemetar.
Sosok itu, sekali lagi dibarengi terpaan sinar rembulan yang menambah mistis suasana,
Tersenyum lembut, mengangguk.
Mata birunya seolah makin berkilau bagai intan.
"Namaku Amra. Dan aku salah satu dari para malaikat pencabut ruh,"
ucapnya halus dan seolah tak masalah langsung memperkenalkan dirinya,
Di depan anak manusia yang kini terduduk lemas mendengarnya. Penuh kepasrahan.
"Jangan takut, untuk saat ini aku tidak akan mengambil ruhmu, hihi...
Mungkin entah kapan, tapi sepertinya bukan dalam waktu dekat kok 😊"
Dia tertawa kecil.
Sepertinya penjelasan syekh mengenai malaikat tadi siang sedikit keliru.
Alih-alih menjelma menjadi lelaki tampan maskulin sesuai yang dikira, sosok didepannya ini justru terlihat cantik sekaligus tampan dalam waktu bersamaan.
Apakah ini maksudnya, malaikat tidak punya jenis kelamin?
***
"Halo, Al-Beshara!...
Aku ingin tahu,
Gimana kabar tulisan penelitian
yang rencananya mau dibukukan itu?"
Tanya Amra ceria meski kedatangannya, seperti biasa,
'menguji kesehatan jantung' Alif karena selalu hadir mendadak.
Bahkan di saat ramai sekalipun.
Mereka berdua kini sedang berbincang di gang kecil sudut kota.
Alif sebenarnya sedang dalam perjalanan menjemput Meera sepulang sekolah khusus perempuan. Meski sekolahnya tak selengkap fasilitas sekolah laki-laki, namun itu lebih dari cukup membuat adiknya menguasai keterampilan bermusik dan menari, serta pandai berteman dalam lingkup luas. Tidak seperti kakaknya yang pemalu dan canggung ketika diajak ngobrol. :v
Di tengah perjalanannya ini, ia justru dikejutkan oleh "sahabat dimensi lainnya" yang tiba-tiba muncul menepuk pundaknya dari belakang seolah habis berteleportasi, menyapanya dengan ramah.
Alif mengingat-ingat berapa kian kali dirinya harus terbiasa, menghadapi kenyataan aneh bin ajaib tersebut. Terkadang membuatnya mempertanyakan kewarasannya, bukan nabi atau rasul tapi kok mengapa ia bisa berkomunikasi dengan entitas sekelas malaikat?!!
Semenjak beberapa bulan yang lalu, setelah insiden pertama kali kedua sosok beda dunia itu saling jumpa dalam hal yang cukup absurd,
Alif yang habis batuk berdarah---namun anehnya setelah kejadian itu ia tak pernah lagi merasakannya
Lalu Amra yang sedang mampir duduk di bangku pekarangan setelah mencabut ruh seorang warga yang tinggal dekat sini.
Alif dan Amra perlahan tapi pasti, menjalin persahabatan yang manis dan magis.
Alif pun sadar, dibalik sifat Amra yang sulit ditebak bin nyeleneh,
layaknya malaikat dia tetaplah berhati lembut penuh kasih dan sikapnya juga lugas nan anggun. Dan tanpa sifat menggurui, ia mampu mengajarkan Alif akan kunci pembuka tabir rahasia mengenal hakikat Sang Pemilik Keajaiban.
Dan disaat itu terlintaslah ilham luar biasa dari benak Alif,
Menyapu kuas tintanya lebih sering, demi memindai kisah penuh makna nan mengharu biru dari sosok yang tentu saja menyaksikan berputarnya peradaban insan dari Bani Adam hingga sekarang Bani Abbasiyah, lalu menyaksikan pula betapa haru bagaimana makhluk-makhluk yang jiwanya diambang waktu itu berakhir di tangannya.
Kemudian, lembaran-lembaran tentang kisah Amra sengaja Alif rubah konsepnya menjadi prosa berbahasa puitis bagai Kisah Seribu Satu Malam. Juga, Alif membubuhkan karyanya dengan nama samaran...
Al-Beshara. Pembawa kabar gembira.
Alasannya, pertama ia tidak ingin masyarakat spontan heboh dengan karyanya. Bisa-bisa mengakibatkan perpecahan antar sesama dan saling mengkafirkan. Sehingga, jika dibuat prosa, para pembaca hanya akan berbondong-bondong mengungkap misteri karyanya. Ditambah, ia memakai nama samaran sehingga menambah kemisteriusan seri manuskrip tersebut.
Kabar baik! Sekarang lembaran-lembaran tersebut dibukukan dan disetujui oleh pihak petugas perpustakaan kenalan ayahnya, untuk didaftarkan karyanya yang masih volume pertama, untuk menghuni salah satu rak dari Bayt Al-Hikmah.
Begitulah yang ia jelaskan untuk menjawab pertanyaan Amra.
Malaikat yang menjelma menjadi anak berambut emas itu tersenyum lebar dengan mata berseri,
Tangannya meraih dan menggenggam milik Alif untuk berjabat tangan penuh sukacita.
Lalu spontan ia mendekap badan anak manusia itu dengan tawa syukur.
Alif yang cukup terkejut pun ikut tersenyum, membalas pelukan sembari menepuk-nepuk punggung malaikat itu.
"Aku turut senang, hai Kawan! Syukurlah orang-orang akan tahu betapa indah karyamu," lirihnya berbisik di telinga Alif.
Alif hanya meringai, sedikit geli telinganya tiba-tiba dibisiki.
Setelah dirasa cukup melegakan, mereka pun melepas pelukan.
Melanjutkan langkah dengan bergandengan tangan, berayun-ayun, layaknya dua anak kecil yang bersahabat (padahal Alif sebentar lagi akan melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, dan tak usah ditanya berapa usia asli Amra).
"Sepertinya kau harus kukenalkan dengan adikku, wahai Malak Al-Mawt," ujar Alif.
"Oh aku tak keberatan kok,
Ehm ngomong-ngomong.... Sepertinya kita juga harus sering-sering ketemuan, berhubung rencananya kau ingin bikin karyamu jilid dua bukan?" balas Amra dengan usulan.
"Tapi yang penting, kehadiranmu itu jangan bikin jantungku ini melompat terus ya!" tegur Alif.
"Ah, maaf!... maaf!...."
Mereka berdua pun kembali saling tertawa.
Ah, betapa manis bukan persahabatan mereka?
***
Sekali lagi, betapa manis bukan persahabatan dirinya dengan anak manusia itu?
Amra tersenyum simpul mengenang momen-momen lucu dan seru mereka.
Selain menggembirakan, semenjak berteman dengannya ia melihat Alif sepertinya ikut mengambil hikmah dari pelajaran mengimani bangsa makhluknya: malaikat.
Beberapa kali ia mendapati Alif sedang bersujud lama dalam sholat sepertiga malam. Lalu anak muda itu sifatnya menjadi lebih rendah hati,
Walau ia tahu semenjak rampung merilis jilid kedua karyanya, langsung disambut antusias para pecinta ilmu seantero negeri. Buku luar biasa yang menggugah rasa bagi yang membacanya, sekaligus menuntut akal dan hati untuk terus mencari tahu Sang Pemilik Keajaiban dan Rahasia.
Alih-alih pongah terang-terangan menjelaskan bahwa itu karyanya, sekali lagi Alif tetap rendah hati. Biarlah orang-orang mengenalnya dengan nama "Al-Beshara" dalam buku itu.
Lalu, satulagi dari penerapan mengimani malaikat olehnya.
Satulagi hal yang ternyata cukup mengusik benak Amra.
Hal yang bertema krusial terhadap karya Alif. Juga bagi perkembangan pribadi Amra kelak.
"Amra, bukankah dalam mengimani malaikat itu... Terutama malaikat-malaikat sepertimu dan atasanmu, Izrail----pencabut nyawa.....
Um.... Begini, Apakah engkau tahu kapan dan bagaimana nanti aku akan meninggal?"
tanyanya suatu hari saat Alif diam-diam diajak keluar rumah oleh Amra dengan teleportasi menuju bukit kecil di tepian Sungai Tigris. Memandangi angkasa malam yang saat itu sedang memanen bintang jatuh.
Topik tentang kematian.
Setiapkali pertanyaan itu terlontar dari Alif,
Dada malaikat itu terasa sesak dan binar mata birunya tanpa sadar berkaca-kaca, berlinang air. Emosional.
Bahkan malaikat maut sepertinya pun tidak tahu kapan sahabatnya ini akan mati, sebelum Ketua Izrail menyampaikan dari Tuhan nama siapa-siapa makhluk yang hari ini sudah habis fase dunianya.
Sebenarnya, dari lubuk hati Amra, ia tak rela bila persahabatannya berakhir dengan diembannya misi untuk mencabut ruh Alif. Tidak boleh. Itu mimpi buruk terbesarnya.
Tanpa sadar, dirinya pun mulai terisak.
Lalu didengar oleh telinga Alif.
"E-eh, ada apaa??... kok nangis???"
Alif memegang pundak kiri Amra yang berjongkok sendu. Kini sudah terisak.
"Aku paham bahwa setiap yang bernyawa pasti akan menghadapi maut, Alif....
Aku paham bila setiap hubungan pasti akan menemui perpisahan...
Heergh!!... Alif, Sahabatku, bahkan malaikat maut sepertiku tidak tahu persis kapan waktu perpisahan itu...
Aku hanya akan menunggu perintah untuk mencabut ruh seseorang, Sobat.
TAPI AKU TAKUT, AKU SANGAT TAKUT!!!... 😭💔
Aku takut bilamana saatnya makhluk yang giliran kurenggut jiwanya adalah dirimu!!!...
Karena selepas ruhmu keluar, dirimu akan mendiami Alam Barzah...
Selain membuat keluargamu terus terisak pilu akan kematianmu,
Kau juga akan tak pernah lagi bertemu denganku hingga Hari Penghakiman tiba....
KITA TAK BISA BERSAMA LAGI, ALIF!!!....
ITU YANG KUTAKUTKAAAAN!!!!...."
Nada bicaranya tergugu. Wajahnya merah kontras dari kulit cerahnya.
Sisi lain Amra dibalik sifat tenangnya, ternyata penuh rasa peduli yang menggebu, sepenuhnya mengambil alih.
Sifatnya kini makin manusiawi, berkurang sifat kaku nan diluar nalarnya, semenjak lama mengenal Alif.
"Wahai Malaikat Rupawan, kumohon berdirilah Sahabatku," pinta Alif yang langsung dilaksanakan Amra.
Ia menghela napas dengan sedikit tertunduk.
"Jangan berpikir begitu, Amra. Justru aku senang bila dirimulah yang dipilih untuk kematianku kelak.😭
Soal Alam Barzah..."
Alif tersenyum haru, sama-sama berlinanglah netra hijaunya. Menetes dari pelupuk mata.
"Bukankah bagi makhluk yang mengimani-Nya, Allah akan mengabulkan hajat Hamba-Nya?
Berdoalah, Sahabatku. Semoga diriku berakhir dalam keadaan tanpa maksiat sedikitpun. Semoga di kehidupan selanjutnya, Tuhan mengizinkan kita berdua untuk saling bertemu...."
Gantian Alif yang terlebih dulu menggandeng kedua tangan Amra, menenangkannya.
Angin semilir menyapu damai suasana dua hati makhluk itu yang meleleh.
Ada jeda beberapa menit, sebelum Alif kembali membuka mulutnya,
"Um... Amra? Ngomong-ngomong, sebenarnya aku juga mau bilang...
Tak keberatankah kau berkisah lagi padaku tentang banyak hal? Seperti biasa...
Aku sekarang kepikiran untuk merilis jilid ketiga karyaku. 😁"
Suasana yang tadinya sembilu, langsung berubah menjadi berbunga-bunga.
Amra kembali tersenyum lega, merangkul pundak temannya dan mengajaknya duduk di tengah rerumputan dekat situ.
Maka kegiatan riset rutin mereka pun dimulai, diselingi Amra yang menunjukkan sedikit kekuatan cahaya ajaibnya.
Malam yang terasa sakral bagi mereka berdua.
Tiga bulan yang lalu, sebelum Amra harus sibuk dalam suatu "urusan besar" bagi bangsanya,
Disitulah terakhir kali Amra menyaksikan Alif dalam kondisi hidup-hidup.
***
KEMBALI KE TAHUN 1258
"TIDAAAK.... OH YA TUHANKU, TIDAK MUNGKIIIN...."
Napasku tertahan dengan wajah pucat pasi, ketika langkahku terhenti pada tujuan utamaku.
Alif "Al-Beshara"
Nama pemilik tubuh seorang remaja lelaki yang sedang diujung tanduk hayatnya.
Terkapar menyandar dinding reruntuhan, dengan perut terhujam anak panah hingga mengucur begitu banyak darah segar, hingga memucatkan kulitnya. Begitupun darah yang keluar dari bibirnya, dan bercak di telapak tangannya.
Sepertinya, ia kembali batuk darah sebelum diserang dalam pelarian (sia-sia)nya.
Lalu lehernya yang tergorok namun tidak begitu dalam, sehingga deru napas dan denyut jantungnya masih tersisa, meski dikategorikan dalam kondisi sekarat.
"AMH...AMHRAH!!!!!....
AKH-AKHIR-AKHIRNYAAAH!!!!......
KAUUUU......
SINI, SAKH- SAKHIT... SAKHIT!!!!!....." isak nya dengan napas tersendat.
Keluarlah air mata pedih dari pelupuk netra hijaunya.
Begitu ia memanggil, menghamburlah tubuhku tepat di hadapannya.
Perasaanku sempurna tak dapat kulukiskan lagi. Mata dan wajahku sempurna merah padam. Tanganku gemetar menyentuh pundaknya.
CTAS!
Sebuah kilatan memori manusia itu menyambar penglihatanku.
Betapa mengerikannya nasib anggota keluarga Alif lainnya.
Jasad ayahnya yang dimutilasi, lalu ibu dan adiknya Meera yang sempat dinodai gerombolan Mongol sebelum berakhir dengan cara-
AAAAAARGH!!! AKU TAK SANGGUP, TUHAAAN!!!!!...
Batinku benar-benar menjerit lara.
Walau salah satu malaikat kematian, jangan kira hatiku tak memiliki perasaan pada tiap makhluk yang hendak kurenggut hayatnya.
Aku memalingkan wajahku sejenak, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Tapi, tunggu dulu....
SIAL! BAGAIMANA BISA INI HANYALAH MIMPI, KALAU SAJA MALAIKAT SENDIRI TAK PERNAH SEKALIPUN TIDUR DAN LELAH????
Aku menggigit bibirku, menutup mataku dan terisak. Tergugu.
Bisa saja aku selamatkan manusia ini, tapi aku tiada kuasa menolak perintah-Nya,
Untuk memisahkan ruh dari raganya....
"A-AMHRAAAH!!!...."
panggilan lirih sekali lagi itu sempurna membungkamku. Tangan yang satunya terangkat, menggenggam tas selempangnya yang berisi suatu barang, mengisyaratkan ku untuk meraihnya dan membuka isinya.
Lembaran-lembaran bukunya!
Tapi tunggu, kenapa hanya ada jilid 1 di dalam situ?
Alif kembali terisak, lebih kencang. Bahkan setengah memekik jeri,
"HANYAH INHIII.... INHI YHANG BHISA....
SELAHMHAAAT!!!.... SEMUAAAH... SEMHUAAA ILMUUU.... DIBHAKHAAAAR!!!!!.....
MUSNAAAAHHH!!....
JAGHA INI, AMRAAAAH!!!!!.....
AKU MOH-"
Kugenggam kedua tangan lecet manusia itu, dengan memasang ekspresi tenang, menutupi betapa luar biasanya perih di hati.
"Tenangkan dirimu, wahai Sahabatku," lirihku tersenyum pilu.
"Kabar baik, Allah mengizinkanku untuk terus mengunjungimu nanti di Alam Barzah. 😊💔
Dan, tentu akan kusimpan rapat satu-satunya kunci pengetahuan yang tersisa ini. Apalagi tentang rahasia Alam Malakut,
Demi nama Tuhan, aku telah berjanji pada-Nya untuk suatu saat nanti membawa karyamu mengembara melintasi zaman,
Menembus hati orang-orang yang membacamu untuk memeriahkannya dalam perbincangan syahdu dalam membangun setiap peradaban!!!....."
Penjelasanku meluncur deras kepadanya, seolah aku sedang berbincang santai namun penuh makna kepadanya di tengah hamparan taman indah, di masa lalu.
Kini Alif, tak peduli betapa memprihatinkan kondisi raganya, bibir ronanya sempurna tersenyum. Hatinya penuh kelegaan, seolah beban beratnya musnah begitu saja.
Sebelum ritual penghabisan itu,
Dengan tulus, aku mengecup keningnya.
Berbisik mendoa supaya engkau di alam sana dikerubungi ribuan makhluk sebangsaku yang ingin mengenal baik namamu yang jadi terkenal.
Selamat menempuh kehidupan selanjutnya,
Wahai syuhada yang telah berjuang membuka kunci cahaya....
Sejak kematianmu, setiap kali ku harus menjelma menjadi manusia,
Ragaku selalu menyerupakan diri persis denganmu. Namun yang membedakannya, mataku tetaplah biru.
Tak sanggup menggantikan kilau zamrud netramu, Kawan.
TAMAM SHUD.